Langsung ke konten utama

Postingan

Makna Hidup (oleh Bunda Teresa)

‎​ * Hidup adalah kesempatan, gunakan itu. * Hidup adalah keindahan, kagumi itu. * Hidup adalah mimpi, wujudkan itu. * Hidup adalah tantangan, hadapi itu. * Hidup adalah kewajiban, penuhi itu. * Hidup adalah pertandingan, jalani itu. * Hidup adalah mahal, jaga itu. * Hidup adalah kekayaan, simpan itu. * Hidup adalah kasih, nikmati itu. * Hidup adalah janji, genapi itu. * Hidup adalah kesusahan, atasi itu. * Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu. * Hidup adalah perjuangan, terima itu. * Hidup adalah tragedi, hadapi itu. * Hidup adalah petualangan, lewati itu. * Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu. * Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu. ‎​Orang sering keterlaluan, tidak logis, dan hanya mementingkan diri sendiri; bagaimanapun, maafkanlah mereka Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih; bagaimanapun, berbaik hatilah Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa yang sejati; bagaimanapun, ...

The Power of Beautiful Love

Beberapa waktu lalu, saya kebetulan dapet curhat dr seorang rekan. Ia komplen karena saat ini, kekasihnya nyaris gak pernah lg reply SMS-nya dan juga gak bisa anter jemput dia lagi, semenjak sang tercinta mulai membuka usaha barunya sendiri alias berwirausaha. Saya hanya ngikik2x aja nanggepinnya (sampe dia kheki karena saya malah sibuk hihi-hihi, hahaha..). Sebelum dia makin terbenam dalam kejengkelannya dgn respon saya, maka saya kemudian nanya,"menurut kamu, dia dewasa dan bisa terima kamu apa adanya gak?" Dengan mantap dan penuh semangat dia menjawab "YA". Saya lsg nyaut aja,"trus lalu sebanding gak kedewasaan dan penerimaan dia kepada kamu scara apa adanya, dibandingkan dengan kesulitan dia untuk membalas SMS kamu?" Lalu saya tanya lagi,"Oh ya, sebelum kamu dulu pacaran ama dia, emang kamu pulang perginya ama siapa?" Lalu dia jawab,"Pergi sendiri..." Trus saya sambung lg,"Lalu sekarang masalahnya apa? Kalo dulu aja kamu kemana...

Indahnya Bersyukur

Karena hujan yg tidak kunjung berhenti, akhirnya saya memutuskan menerobos hujan karena hari sudah malam... Dan sampai ciputat, ini perut dah ga bisa diajak kompromi, akhirnya saya memutuskan mampir di warung nasi tenda dipinggir jalan ciputat..lagi asik asiknya menikmati pecel lele, masuklah seorang bapak, dengan istri dan 2 anaknya.. Yg menarik adalah kendaraan mereka adalah gerobak dorong.. Dan bapak ini memesan 2 piring nasi dan ayam goreng utk istri dan anaknya. Pertamanya sih ga ada yg menarik, tetapi ketika saya selesai makan, ada yg menarik hati saya.. Ternyata, yg menikmati makanan itu hanya istri dan anaknya. Sedangkan sang bapak hanya melihat istri dan anaknya menikmati makanan ini. Sesekali saya melihat anak ini tertawa senang sekali, dan sangat menikmati ayam goreng yg dipesan oleh bapaknya.. Saya perhatikan, wajah sang bapak, walau tampak kelelahan tetapi ada senyum bahagia di wajahnya.. Lalu saya mendengar dia berkata.."makan yg puas to..ini hari ulang tahunmu...

Saya Pikir...

‎​ (*) Saya pikir, hidup itu harus banyak meminta ~ ternyata harus banyak memberi. (*) Saya pikir, sayalah org yang paling hebat ~ ternyata ada langit di atas langit. (*) Saya pikir, kegagalan itu final ~ ternyata hanya sukses yg tertunda. (*) Saya pikir, sukses itu harus kerja keras ~ ternyata kerja pintar. (*) Saya pikir, kunci surga ada dilangit ~ ternyata ada di hatiku. (*) Saya pikir, Tuhan selalu mengabulkan setiap permintaan ~ ternyata Tuhan hanya memberikan yg kita perlukan. (*) Saya pikir, makhluk yg paling bisa bertahan hidup adalah yg paling pintar, atau yg paling kuat ~ ternyata yg paling cepat merespon perubahan. (*) Saya pikir, keberhasilan itu karena keturunan ~ ternyata karena ketekunan. (*) Saya pikir, kecantikan luar yg paling menarik ~ ternyata inner beauty yg lebih menawan. (*) Saya pikir, kebahagian itu ketika melihat ke atas ~ ternyata ketika melihat ke bawah. (*) Saya pikir, usia manusia itu diukur dari bulan & tahun ~ ternyata...

Sonata Hati

Suatu waktu, saya sempet membaca sedikit sebuah artikel berjudul "Mr. Komen" yg ditulis oleh seorang musisi kelas internasional dr Indonesia. Salah satu kalimatnya adalah, "Kita dengan mudahnya memberikan komentar, nasehat dan juga kritik, dengan terkadang tanpa memperhatikan apalagi mempelajari terlebih dahulu apa latar belakang dan juga alasan dari mengapa peristiwa atau perbuatan itu mesti terjadi atau dilakukan, karena kita memang cenderung selalu lebih mudah melihat kuman di seberang lautan ketimbang gajah di pelupuk mata." Saya sangat terkesan dengan kalimat itu karena pada dasarnya kita memang kebetulan memiliki kecenderungan seperti itu, yaitu melihat kekurangan orang lain tapi seringkali lupa menyadari bahwa diri sendiri pun tidak terlepas dari kekurangan yang sama. Kita memang cenderung untuk sering meng-excuse diri sendiri dan meng-accuse orang lain, karena tuntutan ego kita yang slalu minta untuk dimengerti orang lain ketimbang belajar untuk berusaha n...

Mom’s Endless Love (Reflection of My 35 years)

Saya yakin, semua dari kita pasti tahu bahwa KASIH IBU itu sungguh tak berbatas dan juga skaligus tanpa syarat. Dalam posisi ini, saya bicara IBU bukan sebatas biologis semata, tapi juga sekaligus spiritual, karena (mohon maaf) masih banyak wanita di luar sana yang secara biologis melahirkan, namun kurang mampu menjaga martabatnya sebagai ibu dalam sisi spiritualnya. Namun meski seorang wanita mungkin “gagal” dalam menjaga peranan spiritualnya, namun IBU tetaplah IBU tempat kita berbakti, karena beliau adalah ladang terbaik untuk menanam benih2x kebaikan, yang pernah hadir dalam hidup kita. Karena kebetulan, bagi saya secara pribadi, IBU ADALAH SEGALANYA . Ibu bukan hanya sumber kehidupan saya semata, sebab ia sudah jauh melampaui itu semua. Karena ia juga adalah motivator terbaik bagi saya di masa-masa sulit saya (saat ayah terkena masalah hukum yg cukup berat, sehingga membuat kami anak2x-nya mendapat teror dan juga tekanan psikologis dr masya...

Non-Violent Parenting (Mendidik Anak Dengan Cinta)

Dr. Arun Gandhi, cucu laki2x dr Mahatma Gandhi dan juga pendiri M.K. Gandhi Institute for Non-Violence, di kuliah umumnya di University of Puerto Rico, tanggal 9 Juni, menyampaikan hal berikut tentang sebuah contoh nyata dari, “mendidik anak dengan cinta”. Saat itu saya berusia 16 tahun dan tinggal bersama dengan kedua orang tuaku di sebuah institut yang didirikan oleh kakekku, 18 mil di luar Durban, Afrika Selatan, di tengah2x ladang tebu. Kita tinggal di pedesaan yang cukup sepi, sehingga kami nyaris tidak punya tetangga, sehingga aku dan kedua saudara perempuanku sering mengambil kesempatan untuk jalan2x ke kota hanya sekedar untuk berkunjung ke rumah teman atau menonton bioskop. Suatu hari, ayahku meminta bantuanku untuk mengantarnya ke kota untuk sebuah konferensi sehari yang harus dia ikuti, dan aku merasa ini adalah sebuah kesempatan yang sangat baik. Karena a...