Langsung ke konten utama

Postingan

In The Name of LOVE (Atas Nama CINTA)

Ada temen yang bilang kalo “cinta itu gombal” dan ada “teman” yang lain bilang kalo “cinta itu derita tiada akhir”. Tapi ada juga yang bilang bahwa “cinta itu indah” dan yang lainnya bilang bahwa “cinta itu cerahkan hati dan hangatkan jiwa”. Manakah sesungguhnya diantara mereka yang paling benar? Jawabannya adalah tergantung dari sisi mana mereka sedang “berdiri”. Mereka yang saat ini sedang berada di sisi “cinta itu harus memiliki”, maka ketika proses itu tidak dapat terjadi, maka mereka biasanya mengambil sikap kecewa, jengkel, stress, marah atau bahkan mungkin bisa mengalami gangguan kejiwaan hingga yang paling ekstrim yaitu kehilangan nyawa. Namun bila keinginan mereka tercapai, biasanya mereka akan cenderung mengambil sikap posesif (atau over-protective), kadar cemburu yang cukup berlebihan, penuh prasangka dan sikap curiga yang terkadang gak beralasan hingga yang paling ekstrim adalah melakukan kekerasan di dalam hubungan mereka. Pada sisi inilah, pendapat bahwa “cinta it...

Non-Violent Parenting (Mendidik Anak Dengan Cinta)

Dr. Arun Gandhi, cucu laki2x dr Mahatma Gandhi dan juga pendiri M.K. Gandhi Institute for Non-Violence, di kuliah umumnya di University of Puerto Rico, tanggal 9 Juni, menyampaikan hal berikut tentang sebuah contoh nyata dari, “mendidik anak dengan cinta”. Saat itu saya berusia 16 tahun dan tinggal bersama dengan kedua orang tuaku di sebuah institut yang didirikan oleh kakekku, 18 mil di luar Durban, Afrika Selatan, di tengah2x ladang tebu. Kita tinggal di pedesaan yang cukup sepi, sehingga kami nyaris tidak punya tetangga, sehingga aku dan kedua saudara perempuanku sering mengambil kesempatan untuk jalan2x ke kota hanya sekedar untuk berkunjung ke rumah teman atau menonton bioskop. Suatu hari, ayahku meminta bantuanku untuk mengantarnya ke kota untuk sebuah konferensi sehari yang harus dia ikuti, dan aku merasa ini adalah sebuah kesempatan yang sangat baik....

The World of Loveh-Loveh :D

Di era modern spt Skrg, sudah terjadi banyak pergerakan varian dr romansa. Berikut beberapa diantaranya: 1. DARI (PER)MATA TURUN KE HATI apakah ini salah. Jawabannya GAK JUGA, krn jaman sekarang emang harus realistis. Semua kebutuhan bahkan yg paling dasar aja udah lumayan hohoho, jadi sangat wajar, bila banyak yg "terpaksa" harus mencari yg aman secara finansial, krn semua demi tuntutan kenyataan hidup yg gak selalu bersahabat dgn "pilihan hati". Meski pada kenyataannya, gak semuanya happy journey atau happily ever after bahkan happy ending. Karena ada yg ternyata akhirnya "paman gober stadium akhir" (harusnya ngerti sih maknanya apa, hihihi...:p), atau yg share salah satu sahabat saya, "uangku ya uangku, uangmu ya uangmu. Hati kita boleh menyatu, tapi tidak dgn ATM kita", hehehehh, sampe yang "lebih fokus ke usaha/karir", krn semuanya dilakukan demi membahagiakan anak dan keluarga (tapi lupa bahwa KEHADIRAN juga salah satu el...

Tentang Menyayangi

Kita semua tentu belajar dr pengalaman. Bahkan yg udah expert atau level mastah sekalipun masih bisa kepeleset (dan itu berlaku di bidang apapun, tidak terkecuali bidang spiritual/religius dan juga romansa/lope-lope). We all know kalo semua hal yang bersifat "belonging" pasti berujung penderitaan, mau dapet apalagi kalo sampe gak dapet. But, kita masih ngelakuin bahkan meski semua kitab suci udah hafal sekalipun. Jadi apakah rasa "melepas" hanya utk para suci, para bijak atau para tercerahkan? rasanya gak perlu sampe level bijak atau suci utk mulai praktek itu. Mulai dgn hal paling simple, saat melakukan kebaikan, mulai lepaskan kebutuhan akan terima kasih apalagi pujian atau bahkan dikenal seseorang, jd mengurangi penderitaan saat gak ada yang tau kebaikan kita apalagi kenal kita. Mulai belajar paham bahwa saat sayang sama seseorang, ia pun punya hak untuk menolak atau menerima (perasaan) cinta kita sebagaimana kita juga punya hak terima atau menolak ora...

Love and Life

Pada suatu waktu, dlm sebuah acara, seorang audiens bertanya: "apakah cinta gak harus memiliki?" Kemudian dijawab narsumnya bahwa: "bila ada barang di sebuah pusat perbelanjaan tidak mampu kita miliki krn uang kita tak cukup, maka bukan salah si barang, tapi karena salah ketidak-mampuan kita sendiri untuk memilikinya, dan demikian pula dengan cinta". Sah-sah saja jawaban seperti itu sih, meski harus dipertimbangkan jg "karena hidup gak pasti" (masih bisa survive gak pas segalanya gak berjalan sesuai harapan) dan "gak semua pemenuhan kebutuhan emosional bisa digantikan dgn ATM". Demikian banyak yg "berprinsip sekali seumur hidup", haruskah mengorbankan segalanya utk lalu baper kemudian. Krn bbrp kali jumpa kejadian, pasangannya berujar: "Ternyata stelah dihitung di atas kertas, biaya acara kita begitu besar. Belum apa2x saya sudah pusing, apalagi nanti memikirkan Biaya susu, biaya kesehatan dan biaya pendidi...

Cinta bukan tentang harus selalu tentang romansa tapi kadang lebih kepada HATI :D

Kadang member jombloers sering “dibully” gang romansaers sbg “loners yg berharap hujan turun”, sementara di sisi lain, gang of single juga melakukan “serangan balik” kepada the familiers bahwa “percuma dobel bila justru tertekan, sementara sang single masih bisa bebas kemana-mana”, hahahaha....:p Ya memang begitu kenyataannya. Keduanya punya “madu dan racunnya” masing-masing. Karena hidup emang gak bakal pernah sempurna. Emang saat sendiri mungkin tak memperoleh seorang partner istimewa yang bukan hanya bergerak sebagai sahabat namun juga afeksi dan intimasi seperti yg terjadi bila menikah (karena udah jelas persahabatan ya ada batasnya dunk, hohoho....:p) Sementara yang dobel juga gak menjamin kemudian perfectly happily ever after layaknya film-film dongeng animasi. Which is, selera makan beda aja bisa jd sumber “ledakan” itu baru yang sifatnya internal belum lg kalo big famz kedua pihak ikut masuk, bisa langsung “duar”, hahahaha.... Jadi sebenernya esensinya cum...

Indahnya Cinta Sejati (share inspiratif dr BB seorang sahabat)

Xiao Cien namanya. Tampangnya biasa saja, tp penuh pengertian & kelembutan. Di tahun kelulusan kami, ia berkata, "Saya dpt beasiswa ke Amerika, dan tak tahu berapa lama di sana. Kita bertunangan dulu, ya?" Sehari sesudah wisuda, kami bertunangan. Xiao Cien brgkt ke Amrik dan saya mendpt pekerjaan bagus. Kami berhubungan dan melepas kerinduan dgn bertelepon. Suatu hari menuju tempat kerja, saya tertabrak. Tidak tahu lewat berapa lama saya pingsan. Saat siuman, yg terlihat adalah raut wajah sedih dari setiap orang. Sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa saya tdk dpt bersuara? Ayah berkata, "Dokter bilang syaraf kamu terluka. Sementara tdk dpt bersuara, lewat beberapa waktu akan membaik." "Saya tidak mau!" saya berusaha memukul ranjang, membuka mulut lebar-lebar berteriak, tapi gak ada suara yg keluar. Setelah itu, kehidupanku berubah. Suara telepon yg didambakan menjadi suara yg sangat menakutkan. Saya tidak lagi keluar rumah, lalu mengucilk...