Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang Hati

Tulisan berikut ini diperoleh dari kumpulan pesan baik beberapa guru _/\_ 1. Bagaimana bila SI DIA lebih mengutamakan baktinya daripada keluarganya??? Dalam sebuah event diskusi, seorang perempuan dewasa bertanya tentang keraguannya untuk melanjutkan hubungannya ke tingkat pernikahan, karena dia melihat bagaimana baktinya sang calon kepada orang tuanya. Ia kuatir bahwa itu akan menyulitkan kehidupan keluarganya bila sang calon terlalu "anak mami" seperti itu. Dijawab dengan sebuah ilustrasi kisah nyata bahwa ada seorang anak yang begitu tulus melepaskan segalanya demi kesembuhan ibunya terkasih, bahkan sejak awal ia siap untuk kehilangan keluarganya sendiri, karena ia memahami bahwa pasangan hidupnya belum tentu berkenan dan memahami juga bertahan di sisinya bila suatu saat ia akan kehilangan "segalanya" untuk baktinya. Dan memang, ia harus kehilangan seluruh hartanya (bahkan hingga tak mampu menebus jenazah ibunya dari rumah sakit) setelah ...

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat berani memutuskan untuk memilih sebuah jalan kehidupan. Karena apapun yg dipilih, (sayangnya) pasti punya konsekwensinya masing-masing

Beberapa curahan hati dari sahabat maupun klien tentang "PEMBATASAN" untuk berkarir bahkan kegiatan sosial sekalipun, entah oleh pasangan bahkan orang tua, membuat banyak sahabat tersebut mempertanyakan "apa sesungguhnya makna menikah itu?", bila ujungnya mereka malah merasa jadi lebih "terpenjara" dan menganggap pasangan dan orang tua serta mertuanya gak support mereka, padahal semua karir atau kegiatan kebajikan itu buat keuntungan keluarga mereka jg. Well, berani berkeputusan keluarga sudah pasti memiliki konsekwensinya masing2x. Bila masih "(terlanjur) sayang" dengan karir maupun kegiatan sosialnya, ya sebaiknya jangan pernah memilih berkeluarga. Betul, memang ada yg melarang bahkan menghentikan total (termasuk yg melarang dgn alasan yg gak jelas), namun sebagian besar, ternyata (akhirnya) lebih banyak karena kasus "kurang toleransi" dengan pernikahannya. Selama bukan melarang apalagi menghentikan dgn alasan yg gak jelas, ...

Relasi atau Kongsi

Mengulik topik ini tak bakal pernah kehabisan bahan. Topik kali ini membahas tentang rentannya perpisahan yang begitu mudah terjadi meski "modal" sudah lengkap bahkan nyaris sempurna sekalipun. Bila melihat kisah-kisah yang terbukti BERJALAN BAIK bahkan juga INDAH, bukan karena mereka BEBAS DARI KESULITAN atau bahkan BEBAS DARI PERTIKAIAN apalagi kemudian mengharap BEBAS DARI MASALAH. Kuncinya adalah KESAMAAN VISI dalam bingkai TOLERANSI dan KEBIJAKSANAAN. Sederhananya seperti ini: - Gimana kalo dapet pasangan yg meski mungkin berlimpah rejeki dan berlebih hoki, tapi VISI hidupnya didedikasikan untuk berderma, maka bisa PERANG DUNIA 3, bila punya pasangan yg tidak sevisi, meski moralnya sangat baik sekalipun, plus bisa bagi waktu seimbang antara kerja keras, sosial dan keluarga berikut penuh cinta pada keluarga, karena POLA HIDUPNYA benar2x hanya sesuai dengan KEBUTUHAN dan bukan keinginan, sebab dimaksimalkan lebih untuk sosial, spiritual dan kemanusiaan. - atau ...

Hati-hati dengan kebencian kita, karena...

Hati-hati dengan KEBENCIAN kita, karena bukan hanya merusak (baik tubuh maupun batin kita), melainkan juga MAMPU MENDEKATKAN jodoh "impian" kita, karena memang alam semesta sangat adil, MELATIH KESABARAN kita dan bukan melulu menyenangkan kita, hahahaha.....:D Meski bermaksud utk sangat serius dalam menyimak sekaligus menjadi bahan perenungan, apa daya batin dan logika gak bisa kompak dan akhirnya dengan berat hati harus senyum minimal nyengir setelah memperoleh banyak "pencerahan" dari kisah para sahabat dan saudara juga relasi yg "sukses" memperoleh jodoh sesuai stadium kebencian mereka. Mulai dr yg level jengkel dan kebetulan dapetnya sifatnya saja yang kebetulan mirip sama dgn seseorang yg kurang disukainya. Lalu ada yg level sedang yaitu marah, dapet cuman mukanya (dan sekaligus penampilan fisiknya mirip banget bagai "kembaran" sang "antagonis") namun sifatnya belum tentu sama (tapj efek harus melihat kemiripan wajah tetap m...

Secara logis, CINTA baik seharusnya TANPA SYARAT, tapi..............

UNCONDITIONAL LOVE , itu adalah pedoman untuk CINTA yang baik sekaligus juga bahagia. Namun sayangnya, dalam kenyataan di lapangan, gak bisa seideal itu. Berikut daftar " kerealistisan " kita: 1. Gak MUNA kalo bisa cakep lah (minimal untuk perbaikan keturunan) Sayangnya SYARAT satu ini sama sekali gak jamin untuk " gak berhenti mencari " sih. Karena nyatanya ya tetep ada kejadian ketidak-mampuan untuk menjaga kesetiaan , meski pasangan sudah serupawan apapun. atau bahkan " rumput tetangga (terlihat dan terasa) lebih hijau " karena faktor PERUBAHAN (entah karena memang secara alamiah akibat faktor usia maupun akibat efek dari sakit tubuh jasmani). Well, ternyata semaha ganteng/cantik apapun pada akhirnya gak pernah menjamin kemudian happily ever after, bahkan meski saat masih level unyu-unyu sekalipun belum tentu "kuai-kuai" mengarungi bahtera cinta, hihihi.... 2. Wajib REALISTIS lah,"Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya...

Bukan CINTA yang bikin sakit, EGO kita yang melakukannya

Pernah gak perhatikan kalo banyak yang mungkin BIASA AJA bisa dapet yang LUAR BIASA. Sementara banyak juga yang mungkin termasuk LUAR BIASA malah dapet yang LUAR BINASA. Bila udah begitu, lalu mau tunjuk sebagai "salah" siapa. Lagi-lagi KETIDAK-PASTIAN dalam hidup memang merupakan sebuah KENISCAYAAN yang bersifat MUTLAK. Tak ada yang pernah bisa menjamin dan atau menggaransi bahwa sang "malaikat" kemudian memperoleh "kehidupan surgawi", sementara sang "the Beast" kemudian pasti memperoleh kehidupan yang horror. Punya pasangan baik tapi keluarga (kandung dan juga besarnya) ternyata "menggemaskan". Keluarga besarnya mengagumkan namun sebaliknya giliran sang pasangan yang menyeramkan (bahkan bisa bikin trauma dan fobia, hihihi....:p). Atau semuanya baik-baik saja, tapi giliran sang buah hati kurang atau bahkan bisa saja sangat tidak sesuai harapan. Bahkan yang "sangat sesuai harapan" pun belum tentu memberikan kegembiraa...

Cinta itu bukan seberapa lama bertahan, tapi seberapa jelas mau dibawa kemana

Judul di atas saya peroleh dari sebuah game quiz di Facebook berjudul "tanya Ko Ahok". Terlihat lucu, tapi maknanya sebenarnya sangat serius. Memang masih bagus bisa BERTAHAN, namun cuman sekedar survive, masalahnya belum tentu bisa bahagia kan :p HIDUP GAK PASTI Sebagian besar dari kita paham tentang hal ini, namun sayangnya masih banyak yang tak pernah siap saat ketidak-pastian datang. Maaf, apa yang akhirnya perlu disombongkan, bila beberapa menit dari sekarang saja, kita juga tak pernah tahu bakal terjadi apa kepada diri kita. Adalah wajar dan sangat alamiah, bila kebetulan punya berkah hidup yg kebetulan baik dan berupa baik pula, namun sayangnya semuanya pasti kena hukum alam semesta bernama ketidak-pastian. Yang perlu lebih dipersiapkan sesungguhnya bukan tabungan deposito, karena banyak yang akhirnya berjuang terlalu keras karena takut (hidupnya) kekurangan di masa depan namun akhirnya terpaksa gugur di usia muda karena kelelahan, atau saat tua juga menyesa...