Langsung ke konten utama

Ketulusan yang Membawa Hikmah (inspiring share from my friend's BB)

‎​Ada cerita tentang seorang petani Skotlandia yang mendengar tangis seorang anak kecil yang terperosok ke dalam lumpur. Tanpa menunggu lama, si petani tersebut langsung menolong dengan mengeluarkan anak tersebut dari dalam lumpur.

Keesokan harinya ayah si anak datang untuk menyatakan terima kasih pada sang petani. Dia adalah orang kaya dan menawarkan berbagai hal pada si petani, namun petani tersebut menolaknya.

Akhirnya orang kaya itu menyekolahkan anak si petani dan menanggung semua biayanya. Ia di sekolahkan di universitas St. Mary's Hospital Medical School di London.

Si anak petani memanfaatkan kesempatan itu dengan belajar sungguh-sungguh. Anak itu bernama Sir Alexander Fleming yang menemukan obat penisilin.

Bertahun-tahun kemudian anak si orang kaya diserang penyakit pneumonia dan obat yang mampu menyelamatkan nyawanya adalah obat penisilin. Anak orang kaya tersebut bernama Sir Winston Churchill.

Kita melihat bagaimana kebaikan itu kembali kepada mereka yang sudah memberikan kebaikan. Sebagaimana benih yang ditaburkan akan menghasilkan buah, demikianlah setiap perbuatan baik yang kita lakukan akan membawa kebaikan bagi kita sendiri.

Meskipun demikian, kita jangan berbuat baik dengan tujuan supaya menerima kebaikan lagi, tetapi kita melakukannya terutama karena itu adalah perintah Tuhan untuk mengasihi sesama kita.

Setiap hari merupakan kesempatan untuk berbuat baik. Awali setiap hari dengan hati dan pikiran yang baik, yang bersih dari niat dan keinginan jahat. Hati dan pikiran yang baik adalah sumber ketenangan, damai dan kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang di sekeliling kita :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indahnya Cinta Sejati (share inspiratif dr BB seorang sahabat)

Xiao Cien namanya. Tampangnya biasa saja, tp penuh pengertian & kelembutan. Di tahun kelulusan kami, ia berkata, "Saya dpt beasiswa ke Amerika, dan tak tahu berapa lama di sana. Kita bertunangan dulu, ya?" Sehari sesudah wisuda, kami bertunangan. Xiao Cien brgkt ke Amrik dan saya mendpt pekerjaan bagus. Kami berhubungan dan melepas kerinduan dgn bertelepon. Suatu hari menuju tempat kerja, saya tertabrak. Tidak tahu lewat berapa lama saya pingsan. Saat siuman, yg terlihat adalah raut wajah sedih dari setiap orang. Sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa saya tdk dpt bersuara? Ayah berkata, "Dokter bilang syaraf kamu terluka. Sementara tdk dpt bersuara, lewat beberapa waktu akan membaik." "Saya tidak mau!" saya berusaha memukul ranjang, membuka mulut lebar-lebar berteriak, tapi gak ada suara yg keluar. Setelah itu, kehidupanku berubah. Suara telepon yg didambakan menjadi suara yg sangat menakutkan. Saya tidak lagi keluar rumah, lalu mengucilk...

Mengidolakan seseorang harusnya terinspirasi dan bukannya terintimidasi

Begitu banyak kejadian tragis telah terjadi atas nama "cinta idola". Bila di masa kecil, saya berjumpa demam hollywood dan kemudian hong kong, maka era remaja saya bertemu demam dorama jepang. Berikut di jaman now, relatif lebih dominan korean fever yg populer dengan istilah k-drama dan k-pop. Sesungguhnya mengidolakan sesuatu sangat tidak salah. Namun menjadi tragis, saat harus kehilangan hidup bahkan kehilangan nyawa. Mengagumi seseorang seharusnya kita terinspirasi kisah perjuangan dan juga hasil suksesnya, dan bukan justru terintimidasi dengan melakukan hal2x yang ajaib. Kita gak pernah tahu perjuangan mereka di balik gemerlap layar itu. Dan bila memang semuanya manis dan baik2x saja, mengapa banyak dr figur popular itu akhirnya satu persatu justru mengakhiri hidupnya masing2x. Yang ironisnya adalah, biasanya akan diikuti gerakan yang sama oleh para fans-nya. Jangankan mengakhiri hidupnya, punya pacar atau sang idola akhirnya menikah, yg mestinya kita bisa iku...

Value of Life

Mungkin beberapa diantara kita yg pernah denger kisah dr Ajahn Brahm tentang ,"Ayam dan Bebek",dimana sepasang suami istri yg kebetulan mendengar suara binatang lalu sibuk "berdebat" tentang nama binatang yang mereka dengar suaranya tersebut. Pada awalnya suaminya (yg kebetulan di kisah ini dlm posisi BENAR) berusaha sibuk"memperbaiki" kesalahan istrinya tersebut, namun belakangan akhirnya sang suami baru menyadari bahwa KEDAMAIAN ITU JAUH LEBIH PENTING DARIPADA SEKEDAR BENAR,sehingga kemudian ia mengalah kepada "kebenaran" istrinya tersebut, demi sebuah cinta yang penuh ketulusan. Apakah cara diatas itu tepat? Sebenarnya nggak juga, tapi toh masih ada waktu lain kan untuk menjelaskan kebenarannya tersebut. Bukankah lebih baik damai terlebih dahulu, meski terpaksa harus berdiri di atas sebuah "kesalahan" sekalipun, ketimbang sebuah kebenaran namun berdiri di atas sebuah "perang". Dan sayangnya kita lebih sering...