Langsung ke konten utama

The Spirit of The Winner (share yg sangat inspiratif dari BB seorang sahabat)

" The Winner is always part of the answer;The Loser is always part of the problem."
 
The Winner always has a program;The Loser always has an excuse.
 
The Winner says, "Let me do it for you";The Loser says, "That is not my job."
 
The Winner sees an answer for every problem;The Loser sees a problem for every answer.
 
The Winner says, "It may be difficult but it is possible";The Loser says, "It may be possible but it is too difficult."
 
When a Winner makes a mistake, he says, "I was wrong";When a Loser makes a mistake, he says, "It wasn't my fault."
 
A Winner makes commitments;A Loser makes promises.
 
Winners have dreams;Losers have schemes.
 
Winners say, "I must do something";Losers say, "Something must be done."
 
Winners are a part of the team;Losers are apart from the team.
 
Winners see the gain;Losers see the pain.
 
Winners see possibilities;Losers see problems.
 
Winners believe in win-win;Losers believe for them to win someone has to lose.
 
Winners see the potential;Losers see the past.
 
Winners are like a thermostat;Losers are like thermometers.
 
Winners choose what they say;Losers say what they choose.
 
Winners use hard arguments but soft words;Losers use soft arguments but hard words.
 
Winners stand firm on values but compromise on petty things;Losers stand firm on petty things but compromise on values.
 
Winners follow the philosophy of empathy: "Don't do to others what you would not want them to do to you";Losers follow the philosophy, "Do it to others before they do it to you."
 
Winners make it happen; Losers let it happen.
 
Winners plan and prepare to win. The key word is preparation...

SEMANGAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indahnya Cinta Sejati (share inspiratif dr BB seorang sahabat)

Xiao Cien namanya. Tampangnya biasa saja, tp penuh pengertian & kelembutan. Di tahun kelulusan kami, ia berkata, "Saya dpt beasiswa ke Amerika, dan tak tahu berapa lama di sana. Kita bertunangan dulu, ya?" Sehari sesudah wisuda, kami bertunangan. Xiao Cien brgkt ke Amrik dan saya mendpt pekerjaan bagus. Kami berhubungan dan melepas kerinduan dgn bertelepon. Suatu hari menuju tempat kerja, saya tertabrak. Tidak tahu lewat berapa lama saya pingsan. Saat siuman, yg terlihat adalah raut wajah sedih dari setiap orang. Sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa saya tdk dpt bersuara? Ayah berkata, "Dokter bilang syaraf kamu terluka. Sementara tdk dpt bersuara, lewat beberapa waktu akan membaik." "Saya tidak mau!" saya berusaha memukul ranjang, membuka mulut lebar-lebar berteriak, tapi gak ada suara yg keluar. Setelah itu, kehidupanku berubah. Suara telepon yg didambakan menjadi suara yg sangat menakutkan. Saya tidak lagi keluar rumah, lalu mengucilk...

Mengidolakan seseorang harusnya terinspirasi dan bukannya terintimidasi

Begitu banyak kejadian tragis telah terjadi atas nama "cinta idola". Bila di masa kecil, saya berjumpa demam hollywood dan kemudian hong kong, maka era remaja saya bertemu demam dorama jepang. Berikut di jaman now, relatif lebih dominan korean fever yg populer dengan istilah k-drama dan k-pop. Sesungguhnya mengidolakan sesuatu sangat tidak salah. Namun menjadi tragis, saat harus kehilangan hidup bahkan kehilangan nyawa. Mengagumi seseorang seharusnya kita terinspirasi kisah perjuangan dan juga hasil suksesnya, dan bukan justru terintimidasi dengan melakukan hal2x yang ajaib. Kita gak pernah tahu perjuangan mereka di balik gemerlap layar itu. Dan bila memang semuanya manis dan baik2x saja, mengapa banyak dr figur popular itu akhirnya satu persatu justru mengakhiri hidupnya masing2x. Yang ironisnya adalah, biasanya akan diikuti gerakan yang sama oleh para fans-nya. Jangankan mengakhiri hidupnya, punya pacar atau sang idola akhirnya menikah, yg mestinya kita bisa iku...

Value of Life

Mungkin beberapa diantara kita yg pernah denger kisah dr Ajahn Brahm tentang ,"Ayam dan Bebek",dimana sepasang suami istri yg kebetulan mendengar suara binatang lalu sibuk "berdebat" tentang nama binatang yang mereka dengar suaranya tersebut. Pada awalnya suaminya (yg kebetulan di kisah ini dlm posisi BENAR) berusaha sibuk"memperbaiki" kesalahan istrinya tersebut, namun belakangan akhirnya sang suami baru menyadari bahwa KEDAMAIAN ITU JAUH LEBIH PENTING DARIPADA SEKEDAR BENAR,sehingga kemudian ia mengalah kepada "kebenaran" istrinya tersebut, demi sebuah cinta yang penuh ketulusan. Apakah cara diatas itu tepat? Sebenarnya nggak juga, tapi toh masih ada waktu lain kan untuk menjelaskan kebenarannya tersebut. Bukankah lebih baik damai terlebih dahulu, meski terpaksa harus berdiri di atas sebuah "kesalahan" sekalipun, ketimbang sebuah kebenaran namun berdiri di atas sebuah "perang". Dan sayangnya kita lebih sering...